Makna Lagu Rockstar – Post Malone

Makna Lagu Rockstar – Post Malone. Lagu Rockstar dari Post Malone featuring 21 Savage tetap menjadi salah satu hits hip-hop paling dominan hingga tahun 2025. Dirilis pada 2017 sebagai single utama dari album Beerbongs & Bentleys, lagu ini langsung meledak dan menduduki nomor satu chart global selama berminggu-minggu. Dengan beat trap yang gelap dan gitar akustik yang moody, Rockstar merayakan gaya hidup rockstar modern: kemewahan, narkoba, hubungan toksik, dan paranoia ketenaran. Maknanya lebih dari flexing—ia adalah potret jujur tentang harga kesuksesan mendadak, di mana shine datang dengan bayangan depresi dan isolasi. BERITA VOLI

Gaya Hidup Rockstar dan Flexing Kekayaan: Makna Lagu Rockstar – Post Malone

Gaya Hidup Rockstar dan Flexing Kekayaan menjadi elemen paling mencolok yang membuat lagu ini addictive. Post Malone dan 21 Savage flexing mobil mewah, perhiasan berlian, dan pesta tanpa henti dengan lirik seperti “I’ve been fuckin’ hoes and poppin’ pillies, man, I feel just like a rockstar”. Hook berulang “All my brothers got that gas and they always be smokin’ like a Rasta” gambarkan lingkaran yang penuh obat dan alkohol sebagai bagian normal dari hidup di puncak. Ini bukan glorifikasi semata, tapi gambaran realistis bagaimana kesuksesan trap/hip-hop sering identik dengan excess—uang banyak bikin segalanya terasa mungkin, dari jet pribadi hingga wanita yang datang sendiri. Makna ini adalah selebrasi atas hustle yang membuahkan hasil, tapi dengan nada yang terasa numb, seolah semua itu sudah biasa.

Sisi Gelap Ketenaran dan Hubungan Toksik: Makna Lagu Rockstar – Post Malone

Sisi Gelap Ketenaran dan Hubungan Toksik memberikan kedalaman emosional pada lagu yang terdengar party. Post Malone akui paranoia dan kesepian: “Acting like I don’t care, but I really do” sambil bicara tentang wanita yang hanya mau karena uang atau status. 21 Savage tambah perspektif lebih dingin dengan lirik tentang senjata dan kewaspadaan terhadap musuh, tunjukkan bahwa rockstar life juga penuh ancaman. Obat-obatan seperti pillies bukan escapism fun, tapi cara cope dengan tekanan—depresi, insomnia, dan rasa hampa meski dikelilingi kemewahan. Makna ini adalah kritik halus terhadap industri musik yang dorong excess sebagai simbol sukses, tapi sering hancurkan artis dari dalam. Rockstar jadi cermin bagaimana ketenaran bisa terasa seperti jebakan emas.

Dampak Budaya dan Pengaruh Musik

Dampak Budaya dan Pengaruh Musik Rockstar luar biasa, dengan miliaran streaming dan menjadi blueprint lagu trap melodic selanjutnya. Beat yang campur gitar akustik dengan trap bass buka genre baru—emo trap atau melancholic rap—yang memengaruhi banyak artis muda. Video klipnya yang gelap dan stylish, dengan Post Malone di mansion mewah tapi terlihat kesepian, visualisasikan tema itu sempurna. Di tahun 2025, lagu ini masih sering diputar di klub, gym, atau playlist nostalgia, jadi simbol era ketika hip-hop jadi mainstream total. Dampaknya juga sosial: memicu diskusi tentang kesehatan mental artis, karena Post Malone terbuka tentang perjuangannya setelah lagu ini sukses besar.

Kesimpulan

Rockstar bukan sekadar anthem flexing, tapi potret lengkap tentang gaya hidup rockstar modern: kemewahan yang menggoda, tapi penuh paranoia, toksisitas, dan harga emosional. Di tahun 2025, maknanya tetap relevan sebagai pengingat bahwa sukses besar sering datang dengan void yang sulit diisi. Post Malone dan 21 Savage berhasil satukan keseruan trap dengan melankoli mendalam dalam beat yang timeless, membuat lagu ini klasik abadi. Dari pillies hingga rasa hampa, ia ajarkan bahwa jadi rockstar terasa hebat, tapi juga melelahkan. Dengarkan lagi, rasakan mood-nya, dan ingat: shine terang, tapi bayangan selalu ikut. Lagu ini terus menginspirasi sekaligus memperingatkan generasi baru tentang harga ketenaran.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *